Senin, 10 Juni 2013

Diskusi Politik Pemilu 2014



Diskusi politik bertema “Pemilu 2014 adalah pemilunya kaum borjuis; bangun gerakan rakyat dengan kemandirian politik untuk kekuasaan rakyat!” yang digagas oleh Militan Indonesia, Partai Pembebasan Rakyat, Lembaga Advokasi Kerakyatan, GSPB, Pembebasan serta kerja bareng Toko Buku Buruh Membaca dan Majalah Ganesha-ITB Bandung berlangsung cukup lancar dan dihadiri sekitar 30 peserta—meliputi buruh, mahasiswa, pengacara dan pengajar. Acara yang dimoderatori oleh Arie Pembebasan ini diadakan pada tanggal 20 April 2013 dengan menghadirkan tiga pembicara: Jesus SA (Militan Indonesia), Nanang Ibrahim (GSPB), dan Barra Pravda (Partai Pembebasan Rakyat).

Barra Pravda, sebagai pemapar pertama, menyampaikan poin-poin penting mengenai Pemilu 2014. Pemaparan Pravda mengandungi, setidaknya, tiga kalimat kunci: pertama, Pemilu 2014 sebagai perhelatan kaum borjuis; kedua, mengorganisasi kekuatan rakyat menjadi bangunan politik rakyat; ketiga, membuka saluran-saluran politik ke seluruh elemen progresif.

Lebih jauh Pravda menunjukkan fakta-fakta historis, sebagai fakta-fakta politik, bahwa selama ini kaum borjuis telah menggunakan hak suara rakyat untuk memperlancar agenda-agenda mereka; menjarah kekayaan rakyat melalui kursi-kursi di parlemen, di lembaga eksekutif dan yudikatif. Oleh sebab itu, lanjut Pravda, sekarang saatnya rakyat tidak bisa lagi dibodohi dan dijadikan komoditas politik oleh para elit. Dan sebagai jawabannya, terkait dengan sikap politik rakyat dalam Pemilu 2014 nanti, rakyat pekerja butuh saluran-saluran politik yang bersifat independen, yakni membangun partai mereka sendiri!

Pembicara kedua, Nanang Ibrahim (GSPB), mengatakan bahwa pilihan yang tepat bagi buruh—jika dalam Pemilu 2014 nanti belum terbangun partai revolusioner berbasis buruh—adalah absen (golput) dalam Pemilu 2014. Absennya kaum buruh, tentu, lanjut Nanang, bukan absen yang biasa, tetapi suatu sikap dan ekspresi politik yang terbangun di atas dasar kesadaran kelas. Pasalnya, ilusi-ilusi yang dijanjikan oleh kaum borjuasi di berbagai pemilu tak pernah terbukti. Bahkan tidak hanya tidak terbukti, tetapi ilusi-ilusi borjuis tersebut telah membodohi dan menggiring jutaan manusia ke barak-barak eksploitasi.

Pembicara terakhir, Jesus S. Anam (Militan Indonesia), menyampaikan hal senada dengan pembicara pertama dan kedua. Namun Jesus fokus mengajak peserta diskusi ke arah “pembacaan masalah”—setelah, secara sosiologis, menjelaskan mengenai sejarah pertarungan kelas di dalam masyarakat. Menurut Jesus, setelah berhasil membaca masalah, maka selanjutnya adalah membangun jalan awal penyelesaian dengan menempatkan ideologi revolusioner sebagai pondasi gerakan. Demokrasi borjuis, lanjut Jesus, sudah penuh dengan masalah sejak dari praktek awal. Konsensus bebas, sebagai ruh demokrasi borjuis, telah menghasilkan sebuah kompetisi yang bebas dan, selanjutnya, memberi akses kepada para pemilik modal menuju kekuasaan. Biaya politik yang mahal menyebabkan sistem rekrutmen yang tidak adil, karena untuk bisa duduk di jajaran kekuasaan harus merogoh uang dalam kantongnya sendiri dengan jumlah miliaran. Akhirnya, hanya mereka yang memiliki banyak modal yang bisa menjadi bagian dari kekuasaan; selebihnya sebagai penonton yang hanya bisa bertepuk-tangan. Tak hanya sampai di situ, kapital yang sudah dikeluarkan untuk membiayai praktek politiknya, logikanya, akan dipandang sebagai investasi, dan, tentu, investasi-investasi tersebut “harus bisa kembali”. Inilah jawaban awal dari pertanyaan “mengapa para pejabat cenderung untuk melakukan korupsi”.

Jalan alternatif awal yang disampaikan oleh Jesus, sebagai sikap politik rakyat pekerja terhadap Pemilu 2014, sebagaimana yang telah diutarakan oleh Pravda dan Anang, adalah menolak untuk terlibat di dalam perhelatan politik kaum borjuis dalam Pemilu 2014 mendatang—sebelum rakyat pekerja berhasil mendirikan partai massanya sendiri.

Pada menit-menit terakhir, Jesus memberi penegasan mengenai bagaimana membangun partai yang solid dan berkarakter revolusioner. Menurut Jesus, partai revolusioner akan terbangun jika, pertama-tama, dasar pijaknya adalah ideologi yang revolusioner; kedua, partai revolusioner harus dihidupi oleh kekuatan finansialnya sendiri; ketiga, partai revolusioner harus memiliki gagasan, program, metode, tradisi dan, terakhir, aparatus yang jelas.

(militanindonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar